Parenting SMP Negeri 1 Wadaslintang: Membangun Komunikasi Empatik dan Kolaborasi untuk Prestasi

Featured blog image
Kegiatan 19 August 2026

Parenting SMP Negeri 1 Wadaslintang: Membangun Komunikasi Empatik dan Kolaborasi untuk Prestasi

Author

ADMINISTRATOR

Editor

Wadaslintang - Sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi antara sekolah, orang tua, dan murid SMP Negeri 1 Wadaslintang kembali menyelenggarakan kegiatan Parenting. Kegiatan dilaksanakan selama dua hari, yaitu Selasa dan Rabu, 18 dan 19 Agustus 2026 di Aula SMP Negeri 1 Wadaslintang dengan pemateri Opiq Ikamura, S.Sy., praktisi parenting dan motivator dari Banjarnegara.


Membangun Komunikasi Empatik Menuju Keluarga Bebas Konflik

 

Pada Selasa, 18 Agustus 2026, kegiatan parenting diikuti oleh wali murid dan murid kelas VIII dengan tema “Pembangunan Komunikasi Empatik Menuju Keluarga Bebas Konflik.”

 

Dalam pemaparannya, Opiq Ikamura, S.Sy. menjelaskan bahwa perbedaan generasi sering kali menjadi salah satu penyebab munculnya perbedaan pandangan dan pendapat antara orang tua dan anak. Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial yang begitu pesat, anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dengan pengalaman generasi orang tua mereka.

 

Media sosial bahkan telah menjadi salah satu standar baru dalam kehidupan generasi muda. Paparan informasi yang sangat banyak dan cepat dapat memberikan tekanan tersendiri bagi remaja. Kondisi tersebut dapat membuat mereka lebih rentan mengalami kecemasan, merasa kurang percaya diri, dan mengalami berbagai persoalan emosional.

 

Karena itu, komunikasi menjadi kunci penting dalam membangun hubungan yang sehat antara orang tua dan anak. Orang tua diharapkan mampu menciptakan ruang komunikasi yang membuat anak merasa aman untuk bercerita dan menyampaikan pendapat.

 

Beberapa prinsip yang ditekankan dalam membangun hubungan dengan anak antara lain “didengar, bukan dihakimi; adaptasi, bukan memaksa; serta support, bukan pressure.” Orang tua juga perlu memahami dunia digital yang dekat dengan kehidupan anak serta mampu menjadi contoh atau role model dalam kehidupan sehari-hari.

 

Komunikasi empatik bukan sekadar mendengarkan, tetapi juga berusaha memahami perasaan dan sudut pandang anak dengan menempatkan diri pada posisi mereka.

 

Kolaborasi untuk Prestasi, Menguatkan Peran dalam TKA

 

Sementara itu, pada Rabu, 19 Agustus 2026, kegiatan parenting ditujukan bagi wali murid dan murid kelas IX dengan tema “Kolaborasi untuk Prestasi: Menguatkan Peran Anak, Orang Tua, dan Guru dalam TKA.”

 

Pada jenjang kelas IX, perhatian kegiatan diarahkan pada kesiapan murid menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA). TKA menjadi salah satu komponen yang perlu diperhatikan dalam proses penerimaan murid baru pada jenjang pendidikan berikutnya. Oleh karena itu, kesiapan akademik perlu diiringi dengan dukungan mental, emosional, dan motivasi dari orang tua.

 

Pemateri kembali mengajak orang tua memahami karakteristik generasi Z, termasuk pengaruh media digital dalam kehidupan mereka. Banjir informasi yang diterima anak melalui berbagai media dapat memberikan manfaat, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan seperti kecemasan dan tekanan apabila tidak disikapi dengan bijak.

 

Menjadi orang tua bagi generasi Z membutuhkan kemampuan untuk menjadi teman yang tetap memiliki batas, mengenali dunia digital anak, serta membangun komunikasi yang empatik. Dalam menghadapi TKA, orang tua dapat memberikan dukungan melalui pendampingan belajar, dukungan mental dan emosional, menjaga kesehatan anak, serta menyediakan fasilitas belajar yang memadai.


Lebih dari sekadar memberikan tuntutan untuk berprestasi, orang tua juga diharapkan mampu menciptakan suasana rumah yang mendukung dan memberikan keteladanan. Sikap orang tua dalam menghadapi tantangan, mengelola emosi, dan memberikan semangat akan menjadi contoh penting bagi anak.

 

Kepala Sekolah: Komunikasi dan Motivasi Menjadi Kunci

 

Kepala SMP Negeri 1 Wadaslintang, Wiyoga Surya Gunadi, M.Pd.Si., menyampaikan bahwa kegiatan parenting ini dilaksanakan sebagai respons terhadap berbagai persoalan yang dapat muncul dalam hubungan orang tua dan anak, terutama akibat kurangnya komunikasi.

 

Menurutnya, sekolah tidak dapat berjalan sendiri dalam mendampingi perkembangan anak. Orang tua, guru, dan anak perlu membangun komunikasi serta kolaborasi yang baik agar pendidikan dapat berjalan secara optimal.

 

“Perbedaan generasi merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Namun, perbedaan tersebut jangan sampai menjadi jarak antara orang tua dan anak. Karena itu, komunikasi perlu terus dibangun agar orang tua dapat memahami apa yang dirasakan dan dibutuhkan anak.”

 

Ia juga menekankan pentingnya dukungan orang tua bagi murid kelas IX dalam menghadapi TKA. Menurutnya, TKA perlu dipersiapkan dengan serius karena menjadi salah satu komponen yang diperhitungkan dalam proses penerimaan murid baru di jenjang pendidikan berikutnya.

 

“Anak-anak membutuhkan motivasi dan dukungan dari orang tua. Bukan hanya dalam bentuk fasilitas belajar, tetapi juga dalam bentuk perhatian, pendampingan, dan keyakinan bahwa mereka mampu menghadapi tantangan. Ketika anak merasa didukung, mereka akan lebih percaya diri dalam berusaha dan mencapai prestasi terbaiknya,” tambahnya.

Melalui kegiatan parenting ini, SMP Negeri 1 Wadaslintang berharap terbangun pola komunikasi yang lebih positif antara orang tua dan anak serta semakin kuatnya kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan murid. Dengan komunikasi empatik, dukungan yang tepat, dan keteladanan dari orang tua, diharapkan anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara emosional, percaya diri, berkarakter, dan mampu meraih prestasi sesuai potensinya.

SMP NEGERI 1 WADASLINTANG

ADMINISTRATOR

Editor